SALAM

Assalamualaikum SELAMATDATANG DI BLOG DEVI LESTARI

Wednesday, December 12, 2012

TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN




A. Prinsip-prinsip belajar dalam pencapaian tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan membentuk manusia yang mampu bersaing di dunia global. Sumber daya manusia yang mampu bersaing memasuki dunia global adalah manusia yang benar-benar unggul. Manusia unggul adalah manusia yang mempunyai kemampuan, antara lain:
  • Berfikir kreatif dan produktif
  • Mampu mengambil keputusan
  • Mampu memecahkan masalah
  • Belajar bagaimana belajar
  • Kolaborasi
  • Mampu mengelola / mengendalikan diri
Penentuan strategi pembelajaran merupakan penerapan dari azas-azas pembelajaran. Azas pembelajaran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar, atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru. Prinsip-prinsip belajar adalah

  • Perhatian dan Motivasi
  • Keaktifan
  • Keterlibatan langsung
  • Pengulangan
  • Perbedaan individual
B. Klasifikasi teori belajar dalam pembelajaran

Secara garis besar teori belajar menurut Gredler dapat dibedakan menjadi 3 ( tiga) : Conditioning theory, Conection theories, dan Insightful learning.
 
1. Conditioning theory

Condioning theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu respons dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Parlov, dan dikembangkan oleh Watson, Guthreich, dan Skinner. Secara rinci hasil experiment yang dilakukan oleh Parlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar.
  • Law of respondent conditioning
  • Law or respondent extinction
Selanjutnya Watson mengembangkan teori belajar dengan berpola pada penemuan Parlov. Dia berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Guthreic memperluas penemuan Watson yang dikenal dengan The Law Of Association, yaitu suatu kombinasi stimuti yang telah menyertai suatu gerakan. Kemudian Skinner mengembangkan teori belajar ini dengan teori Operant conditioning, yaitu tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang di sengaja atau operant. Secara rinci hasil experiment yang dilakukan BF.Skinner terhadap tikus adalah
  • Law of operant conditioning
  • Law of operant extinction
2. Conection theories

Conection theories merupakan teori belajar yang menyatakan behwa belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Yeori ini dikembangkan oleh Thorndike yang juga dinamakan train and error learning. Hukum belajar dinamakan Law efektif yaitu
  • Segala tingkah laku yang menyenangkan akan di ingat dan mudah dipelajari
  • Segala tingkah laku yang tidak menyenangkan dan mudah dipelajari
  • Aplikasi teori ini dengan adanya pemberian ganjaran, hukuman, dll.
Secara rinci hasil experiment yang dilakukan Thorndhike terhadap kucing adalah
  • Law of effect
  • Law of readines
  • Law of ekecise
3. Insightful learning

Insightful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut dengan Gestal dan Field theories. Aplikasi teori Gestal dalam proses pembelajaran, antara lain :
  • Pengalaman tilikan (Insight)
  • Pembelajaran yang bermakna (Meaningful learning)
  • Prilaku bertujuan (Purposive behavior)
  • Prinsip ruang hidup (Life space)
Selanjutnnya teori Gestalt dikembangkan oleh Piaget. Menurut Piaget teori belajar merupakan :
  • Proses belajar dari konkrit ke yang abstrak
  • Pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan mental baru yang sebelumnya
  • Perubahan umur mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Teori belajar Burner merupakan pengembangan dari teori belajar Gestalt Insightful Learning. Dalam pendekatan ini mengandung makna bahwa refleks belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah terhadap informasi (masukan) yang diterimannya untuk memperoleh pemahaman. Dasar pemikiran teori ini adalah :
  • Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif
  • Orang menciptakan sendirisuatu kerangka kognitip bagi diri sendiri.
Namun demikian teori ini jugaada kelemahannya, yaitu memerlukan banyak biaya, waktu lama, dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut ada pengembangan teori Insightful Learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan induktif tetapi deduktif.

C. Paradigma pembelajaran

Paradigma pembelajaran dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2, yaitu : Paradigma Behaviorisme dan Paradigma Konstruktivisme.

1. Paradigma Behaviorisme

Pandangan behaviorisme sebenarnya merupakan penerapan dari teori belajar conditioning theories. Penjelasan diatas dapat menggambarkan bahwa menurut Operant conditioning ada 3 komponen belajar, yaitu :
  • Stimulus diskriptif
  • Response peserta didik, dan
  • Konsekwensi perkuatan operant pembelajaran
Asumsi yang membentuk landasan untuk conditioning theories ini adalah :
  • Belajar adalah tingkah laku
  • Perubahan tingkah laku secara fungsional terkait dengan adanya perubahan kejadian di lapangan
  • Hubungan antara tingkah laku dan lingkungan berpengaruh jika sifat tingkah laku dan kondisidapat terkontrol secara seksama
  • Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima sebagai penyebab terjadinya tingkah laku
  • Tingkah laku organisme secara individu merupakan sumber daya yang cocok
  • Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua mahluk hidup
2. Paradigma Konstruktivisme

Dasar paradigma konstruktivisme adalah memandanng bahwa pengetahuan bersifat non objektif, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Sehingga cirri kontruktivisme adalah ketidakteraturan.

Menurut pandangan konstruktivisme belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif, dan refleksi serta interprestasi. Secara ringkas penetaan lingkungan belajar berdasarkan pandangan konstruktivisme menurut Wilson (1997) adalah sebagai berikut :
  • Menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan
  • Menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai alternative
  • Mengintregrasi proses belajar menengajar dengan konteks yang nyata dan relevan
  • Mengintegrasi belajar dengan pengalaman bersosialisasi
  • Meningkatkan penggunaan berbagai media disamping komunikasi tertulis dan lisan
  • Meningkatkan kesadaran peserta didik dalam proses pembentukan pengetahuan mereka.
Dengan penataan lingkungan belajar seperti disebutkan di atas diharapkan mendapatkan hasil aplikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, antara lain :
  • Peserta didik memiliki sikap dan persepsi positif terhadap belajar
  • Peserta didik mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, misalnya mengklasifikasikan, membangun, membandingkan dan menganalisis masalah
  • Peserta didik memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri, kritis, dan kreatif
Secara ringkas manusia yang diharapkan dalam konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar segaimana belajar, kolaborasi dan pengelolaan diri. Menurut pandangan konstruktivisme belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit aktivitas kolaboratif, refleksi, dan interprestasi.

Teori belajar kognitif menurut Plaget 

Plaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran kontruktivisme. Salah satu sumbangan pikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembengan individu. Menurut Plaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap, yaitu :
  • Sensory motor
  • Pre operational
  • Concrete operational dan
  • Formal operational
Implikasi teori perkembangan kognitif Plaget dalam pembelajaran adalah :
  • Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Olehkarna itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
  • Anak-anak akan belajar lebih baik daripada apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya
  • Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing
  • Berikan peluang agar anak belajar sesuai dengan tahap perkembangannya
  • Didalam kelas anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temannya
Teori pemprosesan informasi dari Robert Gagne

Asumsi yamg mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan factor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pemprosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dari kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran mempunyai delapan fase, yaitu :
  • Motivasi
  • Pemahaman
  • Pemerolehan
  • Penyimpanan
  • Ingatan kembali
  • Generalisasi
  • Perlakuan dan umpan balik










Pada handout ini akan dibahas mengenai:
§ Prinsip-prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran.
§ Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran dan Penerapannya dalam Pembelajaran.
2.1 Prinsip-prinsip Belajar dalam Pencapaian Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya akan membentuk manusia yang mampu bersaing di dunia global, sehingga sebagai guru sejak di sekolah tingkat dasar sudah harus memiliki kemampuan untuk mempersiapkan peserta didiknya ke arah sana. Tentu saja dengan cara yang disesuaikan dengan usianya.
Sumber daya manusia yang mampu bersaing memasuki dunia global adalah manusia yang benar-benar unggul. Manusia unggul adalah manusia yang mempunyai kemampuan antara lain: (1) berpikir kreatif dan produktif, (2) mampu mengambil keputusan, (3) mampu memecahkan masalah, (4) belajar bagaimana belajar, (5) kolaborasi, dan (6) mampu mengelola/mengendalikan diri. Untuk membentuk sumber daya manusia yang demikian guru benar-benar harus mempertimbangkan strategi pembelajaran yang dilakukan.
Pada prinsipnya strategi pembelajaran ditentukan berdasarkan atas teori-teori belajar yang sudah ditemukan. Dalam paket 2 ini akan dibahas hubungan teori belajar dengan penentuan strategi pembelajaran.
Penentuan strategi bembelajaran merupakan penerapan dari azas-azas pembelajaran. Azas pembelajaran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru. Prinsip-prinsip belajar adalah:
1. Perhatian dan motivasi.
2. Keaktifan.
3. Keterlibatan langsung/ berpengalaman.
4. Pengulangan.
5. Tantangan.
6. Balikan dan penguatan.
7. Perbedaan Individual.
2.2 Klasifikasi Teori Belajar dalam Pembelajaran
Untuk mendasari strategi pembelajaran maka perlu dibahas teori-teori belajar yang akan mendasari penerapan strategi pembelajaran. Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991) dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: (1) Conditioning theory, (2) Connection theories, (3) Insightful Learning.
Conditioning theory
Conditioning theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa belajar merupakan suatu respons dari stimulus tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Pavlov, dan dikembangkan oleh Watson, Guthreic, dan Skinner.
Pavlov mengembangkan teori belajar ini dengan disebut juga conditioning reflex, sebab yang dipelajari adalah gerakan gerakan otot sederhana yang secara otomatis bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Reflex juga dapat ditimbulkan oleh perangsang lain yang mulanya tidak menimbulkan reflex.
Secara rinci hasil dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
• Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
• Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
Selanjutnya Watson mengembangkan teori belajar dengan berpola pada penemuan Pavlov, dia berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Guthreic memperluas penemuan Watson yang dikenal dengan the law of association, yaitu suatu kombinasi stimuli yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung menimbulkan gerakan apabila kombinasi stimuli itu muncul kembali. Maksudnya jika sesuatu dalam situasi tertentu, maka nantinya dalam situasi yang sama akan mengerjakan hal yang serupa lagi.
Skinner mengembangkan teori belajar ini dengan teori operant conditioning, yaitu tingkah laku bukanlah sekedar respons terhadap stimulus, tetapi suatu tindakan yang disengaja atau operant. Teori ini terlihat bahwa di dalam belajar diperlukan adanya pengulangan-pengulangan suatu stimulus untuk mendapatkan respons.
Secara rinci hasil dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, di antaranya :
• Law of operant conditioning yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
• Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
Connection theories
Connection theories merupakan teori belajar yang menyatakan bahwa belajar merupakan pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Teori belajar ini dikembangkan oleh Thorndhike yang juga dinamakan trial and error learning. Hal ini disebabkan karena proses belajar dapat melalui coba-coba dalam rangka memilih respons yang tepat bagi stimulus tertentu. Hukum belajarnya dinamakan Law effect, yaitu:
• Segala tingkah laku yang menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajar.
• Segala tingkah laku yang tidak menyenangkan akan diingat dan mudah dipelajari.
• Aplikasi dari teori ini dengan adanya pemberian ganjaran, hukuman, dan lain sebagainya.
Secara rinci hasil eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, di antaranya:
• Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
• Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
• Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Insightful Learning
Insightful learning adalah belajar menurut pandangan kognitif. Disebut juga Gestalt dan Field Teories. Teori mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya kedua teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
• Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa.
• Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
• Perilaku bertujuan (purposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
• Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan tempat ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
Transfer dalam belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Jadi menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya
Selanjutnya teori Gestalt dikembangkan oleh Piaget. Menurut teori Piaget teori belajar merupakan:
• Proses belajar dari konkret ke yang abstrak.
• Pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan mental baru yang sebelumnya.
• Perubahan umur mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Teori belajar Brunner merupakan pengembangan dari teoeri Gestaltl insightful learning. Dalam teori Brunner dikatakan untuk mendapatkan pemahaman belajar dengan menemukan sendiri, sehingga menggunakan pendekatan discovery learning. Pendekatan ini, pemahaman pesrta didik didapatkan secara induktif.
Dalam pendekatan ini mengandung makna bahwa refleksi belajar berkisar pada manusia sebagai pengolah terhadap informasi (masukan) yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dasar pikiran teori ini adalah:
• Belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif.
• Orang menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.
Namun demikian teori ini juga ada kelemahannya, yaitu memerlukan banyak biaya, waktu lama, dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut ada pengembangan teori insightful learning ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan induktif tetapi deduktif. Jadi peserta tidak harus mengalami sendiri.
Teori terakhir ini dikembangkan oleh Ausebel dengan nama teori bermakna. Belajar bermakna tidak mutlak harus menemukan sendiri, yang penting peserta dapat membentuk kerangka kognitif sendiri, yang selanjutnya dikembangkan dengan peta konsep.
Dalam penerapannya sebenarnya guru dapat saja memadukan beberapa teori belajar di atas. Hanya saja biasanya seorang guru akan mempunyai kecenderungan ke arah mana mereka akan bertindak. Pada saat ini yang banyak dikembangkan adalah teori yang ke tiga, karena diharapkan siswa lebih banyak memahami atau mengerti dibandingkan hanya menghafal saja tanpa pemahaman. Karena dengan menghafal saja konsep-konsep materi akan segera dilupakan lagi.
Berdasarkan teori-teori di atas muncul adanya prinsip-prinsip belajar yang sebenarnya merupakan penggabungan dari beberapa teori belajar. Prinsip belajar itu antara lain berupa perhatian dan motivasi, kreativitas, keterlibatan langsung/pengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, dan perbedaan individu.
Hubungan prinsip belajar, teori belajar dan implikasi asas pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.3: Hubungan Prinsip Belajar, Teori Belajar, dan Implikasi Asas Pembelajaran.
Prinsip Belajar Dasar Teori Belajar Implikasi Asas Pembelajaran
1. Perhatian dan Motivasi.
BF Skiner
Operant Conditioning
Perhatian:
1. Menunjukkan tujuan.
2. Metode bervariasi.
3. Media yang sesuai.
4. Gaya bahasa tidak monoton.
5. Pertanyaan membimbing.
Motivasi:
1. Bahan ajar sesuai minat siswa.
2. Metode dan teknik yang disukai siswa.
3. Memberitahu hasil pekerjaan siswa.
4. Penguatan.
2. Keaktifan Teori kognitif, Teori Thorndike (Hukum belajar law of exercise) 1. Multi metode dan media.
2. Tugas individu dan kelompok.
3. Eksperimen dan memecahkan masalah.
4. Mengerti isi bacaan.
5. Tanya jawab dan diskusi.
3. Keterlibatan langsung/Berpengalaman. John Dewey (Learning by doing) Piaget (konkret – abstrak).
Brunner (Discovery Learning) 1. Pembelajaran individual dan kelompok.
2. Eksperimen.
3. Media.
4. Psikomotorik.
5. Mencari informasi sendiri.
6. Merangkum.
7. Guru sebagai menejer dan pengelola.
4. Pengulangan Teori psikologi daya. Connection Theories (Thorndike-Low of exercise) 6 Merancang pengulangan.
7 Mengembangkan soal-soal.
8 Petunjuk kegiatan.
9 Alat evaluasi.
10 Bervariasi.
5 Tantangan Conditioning Theory. 1 Eksperimen individual dan kelompok kecil.
2 Tugas pemecahan masalah.
3 Menyimpulkan isi.
4 Menyajikan pelajaran dengan tidak detail.
5 Menemukan konsep, fakta, prinsip, generalisasi.
6 Diskusi.
6. Balikan dan penguatan Teori Medan (Field Theory)
Kurt Lewin.
1 Memantapkan jawaban siswa yang benar.
2 Membenarkan jawaban siswa yang salah.
3 Mengoreksi PR.
4 Catatan-catatan pada tugas.
5 Membagi lembar jawaban siswa.
6 Peringkat.
7 Isyarat.
8 Hadiah.
7. Perbedaan Individual.
BF Skiner (Operant Conditioning)
Thorndike (Low of Effect). 1. Multi metode dan media.
2. Mengenali karakteristik siswa.
3. Pengayaan dan remidiasi
2.3 Paradigm Pembelajaran
Teori belajar-teori belajar yang telah ditemukan akan digunakan dalam konteks pembelajaran. Kecenderungan penggunaan teori-teori belajar akan menghasilkan pandangan atau paradigma pembelajaran yang digunakan. Paradigma pembelajaran dapat dibedakan secara garis besar menjadi 2, yaitu: (1) paradigma behaviorisme dan (2) paradigma konstruktivisme.
Paradigma Behaviorisme
Pandangan behaviorisme sebenarnya merupakan penerapan dari teori belajar Conditioning theory dan Connection theories. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan dari operant conditioning yang dikemukakan oleh B.F. Skinner. Operant conditioning ialah sebuah perilaku yang memberikan pengaruh pada lingkungannya serta menimbulkan akibat. Sebaliknya, perilaku tersebut dipengaruhi oleh akibat itu. Dan tindakan yang utama ialah pengadaan reinforcement/penguatan. Kemungkinan terulangnya sebuah perilaku akan lebih besar, jikalau akibat-akibat yang ditimbulkannya memberikan reinforcement/penguatan.
Penjelasan di atas dapat menggambarkan bahwa menurut operant conditioning ada tiga komponen belajar, yaitu: (1) stimulus diskriptif, (2) respons peserta didik, dan (3) konsekuensi perkuatan operan pembelajaran. Asumsi yang membentuk landasan untuk conditioning theoris ini adalah: (1) Belajar adalah tingkah laku, (2) Perubahan tingkah laku secara fungsional terkait dengan adanya perubahan kejadian di lapangan, (3) Hubungan antara tingkah laku dan lingkungan berpengaruh jika sifat tingkah laku dan kondisi-kondisi dapat terkontrol secara seksama, (4) Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat diterima sebagai penyebab terjadinya tingkah laku, (5) Tingkah laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok, (6) Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan adalah sama untuk semua jenis makhluk hidup.
Penerapan teori tersebut dalam pembelajaran dari pandangan behaviorisme adalah teknik pembelajaran berprogram yang mengatur bahan pelajaran menjadi bagian-bagian kecil (operasional) dan memberikan penguatan pada jawaban-jawabannya (reinforcement). Sehingga behavior modification merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengubah perilaku seseorang sesuai dengan yang diinginkan, melalui reinforcement berulang sampai perilakunya berubah. Dari sini mengandung pengertian bahwa peserta didik diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.
Penjelasan di atas mengartikan bahwa belajar menurut pandangan behaviorisme sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar, sehingga tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan. Pengetahuan itu telah terstruktur dengan rapi, objektif, pasti, dan tetap, sehingga orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial, atau dapat dikatakan ciri dari pembelajaran behavioristik adalah adanya keteraturan.
Ketatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Peserta didik adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Kontrol belajar dipegang oleh sistem yang berada di luar diri peserta didik. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikatagorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikatagorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
Pembelajaran cenderung mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil.
Kecenderungan pandangan ini adalah belajar merupakan perilaku yang nampak. Menurut pandangan ini perilaku yang nampak sangat sesuai dalam pembelajaran karena pengaruh teknologi yang serba rasional dan realistik serta praktis, maka manusia saat ini cenderung untuk lebih operasional, lebih menyukai yang nampak (observable), yang dapat diukur (measurable), penampilan/kinerja (performance), dan kemasan yang rapai (appearance).
Permasalahan yang timbul dari pandangan behaviorisme ini adalah adanya hal-hal yang mungkin tidak tercakup dalam perilaku manusia yang tampak. Selain itu juga perlu dipertimbangkan adalah apakah belajar bisa terjadi dalam lingkungan yang penuh aturan? Tampaknya memang tidak mudah untuk menerapkan pandangan ini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang diharapkan saat ini, yaitu berpikir kreatif, dapat mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Karena menurut pandangan ini rasanya tidak mungkin pembelajaran tanpa adanya ketaatan atau keteraturan.
Apapun kelemahan dari pandangan ini, ternyata dewasa ini banyak teori-teori belajar dalam lingkup pandangan behaviorisme yang diterapkan pada prinsip-prinsip belajar yang diharapkan. Hal ini menandakan bahwa pandangan ini juga banyak diterapkan dewasa ini, walau implikasinya banyak dipadukan dengan pandangan konstruktivisme. Yang perlu dilakukan adalah harus dilihat dan dipilih secara jeli mana yang dapat ditangani dengan menerapkan pandangan behaviorisme ini dalam pembelajaran.
Paradigma Konstruktivisme
Dasar paradigm konstruktivisme adalah memandang bahwa pengetahuan bersifat non objective, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu, sehingga ciri konstruktivisme adalah ketidakteraturan. Maksudnya kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar, karena hanya di alam yang penuh kebebasan peserta didik dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Menurut pandangan konstruktivisme, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Dengan demikian maka pesrta didik akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Implikasi pembelajaran dari pernyataan di atas adalah guru diharapkan dapat mendorong munculnya diskusi dalam rangka memberi kesempatan siswa untuk mengekplorasi pikiran atau aktivitas dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu guru diharapkan dapat mengkaitkan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Peserta didik adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh peserta didik. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Implikasi dalam pembelajaran dari pernyataan di atas adalah diharapkan guru menyediakan pilihan tugas, sehingga tidak semua peserta didik harus mengerjakan tugas yang sama. Dan juga beri kebebasan peserta didik untuk memilih bagaimana cara mengevaluasi dirinya untuk mengukur kemampuan yang telah dikuasainya.
Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana cara belajar, menciptakan pemahaman baru yang sesuai aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata, yang mendorong peserta didik untuk berpikir ulang dan mendemonstrasikan. Dengan demikian maka pembelajaran dan evaluasi menekankan pada proses.
Pembelajaran dalam kontek konstruktivisme lebih diarahkan untuk melayani pertanyaan atau pandangan peserta didik. Penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian. Dan evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata.
Implikasi dari pernyataan di atas adalah hendaknya guru memberikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya. Beri kesempatan peserta didik untuk melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, tentang cara belajarnya, tentang mengapa ia menyukai tugas tertentu.
Secara ringkas penataan lingkungan belajar berdasarkan pandangan konstruktivisme menurut Wilson (1996) dalam Diptiadi (1997) adalah:
• Menyediakan pengalaman belajar melalui proses pembentukan pengetahuan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik diajak ikut menentukan topik/sub topik bidang studi yang mereka pelajari, metode pengajaran, dan strategi pemecahan masalah.
• Menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan berbagai alternatif. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan peninjauan kembali masalah dari berbagai segi.
• Mengintegrasikan proses belajar mengajar dengan konteks yang nyata dan relevan. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan mengupayakan peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.
• Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menentukan isi dan arah belajar mereka. Dalam hal ini guru berperan sebagai konsultan.
• Mengintegrasi belajar dengan pengalaman bersosialisasi. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara peningkatan interaksi antara guru-peserta didik dan peserta didik-peserta didik.
• Meningkatkan penggunaan berbagai media di samping komunikasi tertulis dan lisan.
• Meningkatkan kesadaran peserta didik dalam proses pembentukan pengetahuan mereka. Dalam hal ini diharapkan peserta didik mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan cara tertentu.
Dengan penataan lingkungan belajar seperti disebutkan di atas diharapkan mendapatkan hasil aplikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, antara lain:
• Peserta didik memiliki sikap dan persepsi positif terhadap belajar.
• Peserta didik mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya, misalnya mengklasifikasikan, membandingkan, menganalisis, membuat induksi–deduksi, memecahkan masalah.
• Peserta didik memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri, kritis, dan kreatif.
Secara ringkas, manusia yang diharapkan dalam belajar konstruktivisme adalah berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dapat memecahkan masalah, belajar bagaimana belajar, kolaborasi, dan pengelolaan diri. Bila dihubungkan dengan teori belajar terdahulu, yang sesuai dengan pandangan konstruktivistik ini adalah kelompok teori belajar Insightful Learning, karena harapan hasilnya adalah sama. Menurut pandangan konstruktivisme, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Dengan demikian maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Implikasi pembelajaran dari pernyataan di atas adalah guru diharapkan dapat mendorong munculnya diskusi dalam rangka memberi kesempatan peserta didik untuk meluapkan pikiran atau aktivitas dan keterampilan berpikir kritis. Selain itu guru diharapkan dapat mengkaitkan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.
Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan adalah non objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu, sehingga ciri konstruktivisme adalah ketidakteraturan. Maksudnya kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar, karena hanya di alam yang penuh kebebasan si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasinya terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata.
Peserta didik adalah subjek yang harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar, dan kontrol belajar dipegang oleh peserta didik. Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai.
Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” sedangkan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
• Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
• Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
• Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
• Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
• Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Robert Gagne (1985) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan umpan balik.
Rangkuman
• Azas pembelajaran ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar. Atau dapat dikatakan bahwa azas pembelajaran merupakan implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru
• Secara garis besar teori belajar menurut Gredler (1991) dapat dibedakan menjadi 3 yaitu: (1) Conditioning theory, (2) Connection theories, (3) Insightful Learning.
• Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi.
• Menurut Robert Gagne (1985) bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
• Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.
• Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu
• Menurut pandangan konstruktivistik, belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.




Model-model Pembelajaran


Model-model pembelajaran
1.  Peta Pikiran
Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu hal  berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Sebagai contoh, kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri, maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajay, kocak, sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Ema, Ucup, Hindun, dan lain-lain dengan masing-masing karakternya
Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Yang produknya berupa peta konsep. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif  yang merupakan peta konsep, sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas, kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran, mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis.
2. Kecerdasan Ganda
Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumen kecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan  bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain, jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif, misal kenakalan atau lamunan, inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon).
Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Kondisi ini akan bisa dinetralisir  dengan relaksasi melalui penciptaan suasana  kondusif, misalnya keramahan, kelembutan, senyum-tertawa, suasana nyaman dan menyenangkan, atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan.
Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, ide, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial, musik, dan kreativitas. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga, yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Sebagai orang beragama, kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini, bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir, ada do’a sebagai permintaan dan harapan, dan ibadah lainnya. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini.
3.Metakognitif
Secara harfiah, metakognitif  bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir, berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya,  yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi.
Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung dari variabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan, pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, dan regulasi.
Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7, yaitu: refleksi kognitif, strategi, prediksi, koneksi, pertanyaan, bantuan, dan aplikasi. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif, yaitu: kesadaran, monitoring, dan regulasi.
Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.
4. Komunikasi
Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswa dengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.

Sebagai guru, tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative   tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti itu. Caranya antar lain dengan cara tidak memvonis, katakana “saya ….” bukan katanya, jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan, tumbuhkan citra positif, bersikap mengajak dan bukan memerintah, dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok panutan).  Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa, yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran.
5. Kebermaknaan Belajar
Dalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).
belajar bertanya,menjawab-diskusi,presentasi,menyelidiki, meng-identifikasi, menduga, menyimpulkan, menemukan, mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan, mengembangkan.  Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengan kegiatan mengajar.
Selanjutnya
6. Konstruksivisme                                                            
Dalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi.
Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. Mungkin saja kemasannya tidak akurat, siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi eksalahan, di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar, ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran.
Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal, Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan, refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut, justifikasi, dan sintaks (SOP).
7. Prinsip Belajar Aktif
Ada dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart, mengabaikan kesempatan, membiarkan segalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.
Dari indikator belajar aktif, sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas, maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek, belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosional


Model Pembelajaran ARIAS
Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987: 2-9) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).
Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa (DeCecco, 1968: 610). Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran menurut Saunders et al. seperti yang dikutip Beard dan Senior (1980: 72) dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut.
Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.
 Komponen Model Pembelajaran ARIAS
Seperti yang telah dikemukakan model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assessment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar. Kelima komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Deskripsi singkat masing-masing komponen dan beberapa contoh yang dapat dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkannya kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
Komponen pertama model pembelajaran ARIAS adalah assurance (percaya diri), yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil (Keller, 1987: 2-9). Menurut Bandura seperti dikutip oleh Gagne dan Driscoll (1988: 70) seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil bagaimana pun kemampuan yang ia miliki. Sikap di mana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Sikap ini mempengaruhi kinerja aktual seseorang, sehingga perbedaan dalam sikap ini menimbulkan perbedaan dalam kinerja. Sikap percaya, yakin atau harapan akan berhasil mendorong individu bertingkah laku untuk mencapai suatu keberhasilan (Petri, 1986: 218). Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik secara terus menerus (Prayitno, 1989: 42). Sikap percaya diri, yakin akan berhasil ini perlu ditanamkan kepada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri adalah:
- Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri. Menghadirkan seseorang yang terkenal dalam suatu bidang sebagai pembicara, memperlihatkan video tapes atau potret seseorang yang telah berhasil (sebagai model), misalnya merupakan salah satu cara menanamkan gambaran positif terhadap diri sendiri dan kepada siswa
- Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat mencapai keberhasilan (misalnya dengan mengatakan bahwa kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).
- Memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan/sesuai dengan kemampuan siswa (misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar). Menyajikan materi secara bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukarannya menurut Keller dan Dodge seperti dikutip Reigeluth dan Curtis dalam Gagne (1987: 175-202) merupakan salah satu usaha menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
- Memberi kesempatan kepada siswa secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.
Komponen kedua model pembelajaran ARIAS, relevance, yaitu berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang (Keller, 1987: 2-9). Siswa merasa kegiatan pembelajaran yang mereka ikuti memiliki nilai, bermanfaat dan berguna bagi kehidupan mereka. Siswa akan terdorong mempelajari sesuatu kalau apa yang akan dipelajari ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah tujuan, dan sasaran yang jelas serta ada manfaat dan relevan dengan kehidupan akan mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tujuan yang jelas mereka akan mengetahui kemampuan apa yang akan dimiliki dan pengalaman apa yang akan didapat. Mereka juga akan mengetahui kesenjangan antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan baru itu sehingga kesenjangan tadi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali (Gagne dan Driscoll, 1988: 140).
Dalam kegiatan pembelajaran, para guru perlu memperhatikan unsur relevansi ini. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran adalah:
- Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas (konkrit) pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut (DeCecco,1968: 162). Hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.
- Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa sekarang dan/atau untuk berbagai aktivitas di masa mendatang.
- Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai- nilai yang dimiliki siswa. Bahasa yang jelas yaitu bahasa yang dimengerti oleh siswa. Pengalaman nyata atau pengalaman yang langsung dialami siswa dapat menjembataninya ke hal-hal baru. Pengalaman selain memberi keasyikan bagi siswa, juga diperlukan secara esensial sebagai jembatan mengarah kepada titik tolak yang sama dalam melibatkan siswa secara mental, emosional, sosial dan fisik, sekaligus merupakan usaha melihat lingkup permasalahan yang sedang dibicarakan (Semiawan, 1991). (4) Menggunakan berbagai alternatif strategi dan media pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan. Dengan demikian dimungkinkan menggunakan bermacam-macam strategi dan/atau media pembelajaran pada setiap kegiatan pembelajaran.
.