SALAM

Assalamualaikum SELAMATDATANG DI BLOG DEVI LESTARI

Sunday, April 28, 2013

Teori Belajar


1.  Teori Thorndike
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil atau hukum kesiapan (lawofreadiness), hukum latihan(lawofexercise) dan hukum akibat(lawofeffect).
2.  Teori Skinner
·           Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar.
·           Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif.
·           Pengutan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.
·           Dalam teori Skinner dinyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif.Contoh penguatan positif diantaranya adalah pujian yang diberikan pada anak setelah berhasil menyelesaikan tugas dan sikap guru yang bergembira pada saat anak menjawab pertanyaan.
·           Skiner menambahkan bahwa jika respon siswa baik(menunjang efektivitas pencapaian tujuan)harus segera diberi penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi,atau minimalnya perbuatan baik itu dipertahankan
3.    Teori Ausubel
·          Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai.
·           Bahan pelajaran akan lebih mudah dipahami jika bahan itu dirasakan bermakna bagi siswa
·           Kebermaknaan: sesuai dengan struktur kognitif, sesuai struktur keilmuan, memuat keterkaitan
·           Seluruh bahan (ihtisar/resume/rangkuman/ringkasan/bahan/peta)‏
·           Peta konsep adalah bagan / struktur tentang keterkaitan seluruh konsep secara terpadu / terorganisir (herarkhis, distributive/menyebar)‏
·           Ausubel membedakan antara belajar menemukan dan belajar menerima.Dalam belajar menerima siswa hanya menerima dan tinggal meghapalkan materi.Sedangkan pada belajar menemukan,siswa tidak menerima pelajaran begitu saja,tetapi konsep ditemukan oleh siswa.
·           Belajar bermakna lebih dilakukan dengan metode penemuan (discovery). Namun demikian, metode ceramah (ekspositori) bisa juga menjadi belajar bermakna jika berlajarnya dikaitkan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, tidak hanya sampai pada tahap hapalan; bahan pelajaran harus cocok dengan kemampuan siswa dan sesuai dengan struktur kognitif siswa.
4.  Teori Gagne
Menurut Gagne ada dua objek belajar matematika, yaitu:
a. Objek langsung (fakta, keterampilan, konsep, dan aturan-aturan
(principle)
b.  Objek tak langsung (kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri, bersikap positif terhadap matematika, tahu
bagaimana semestinya belajar)
Delapan tipe belajar Gagne:
a. Isyarat
b. Stimulus respon
c. Rangkaian gerak
d. Rangkaian verbal
e. Belajar membedakan
f. Pembentukan konsep
g. Pembentukan aturan
h. Pemecahan masalah
5.    Teori Pavlov
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan(conditioning). Dalam kegiatan belajar,  agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan Pekerjaan Rumah dengan baik, biasakanlah   dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau member nilai terhadap hasil pekerjaannya. 
6.     Teori baruda (Belajar dengan Meniru)
Baruda melihat juga adanya kelemahan dalam teori Skinner, yaitu bahwa respon yang diberikan siswa yang kemudian diberi penguatan tidaklah esensial, menurutnya yang eseinsial adalah bahwa seseorang akan belajar dengan baik melalui peniruan, melalui apa yang dilihatnya dari seseorng, tayangan, dll yang menjadi model untuk ditiru. Pengertian meniru ini bukan berarti mencontek,tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain,terutama guru.
Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar,tingkah laku yang terpuji,menerangkan dengan jelas dan sistematik,maka siswa akan menirunya. Jika contoh-contoh yang dilihatnya kurang baik iapun menirunya.Dengan demikian guru harus menjadi manusia model yang professional.
7.    Teori Piaget
Jean Piaget menyebutkan bahwa struktur kognitif sebagai Skemata(Schemas), yaitu kumpulan dari skema- skema.Seorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya schemata ini.
Skemata ini berkembang secara kronologis,sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya,sehingga individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari pada ketika iamasih kecil.
Tahap perkembangan kognitif:
• Tahap Sensori Motor (sejak lahir sampai dengan 2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini,pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik(gerakan anggota tubuh)dan sensori(koordinasi alat indra).
•  Tahap Pra Operasi(2 tahunsampaidengan7 tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit.Operasi konkrit adalahberupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan sekelompok objek,menata letak benda berdasarkan urutan tertentu,dan membilang.
•  Tahap Operasi Konkrit(7 tahunsampaidengan11 tahun)
Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan mengklasifikasi,  mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
• Tahap Operasi Formal (11 tahundanseterusnya)
Tahap ini merupakantahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung, dengan hanya menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi.
8.  Teori Bruner
Jerome Brunner menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajaran anak diarahkan pada konsep-konsep dan struktur- struktur yang termuat dalam pokok bahasan yang diajarkan,disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.
Bruner menyarankan keaktifan anak dalam proses belajar secara penuh agar anak dapat mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan,sehinggaanakan memahami materi yang harus dikuasai.
Dalam proses pembelajaran hendaknya siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda dengan menggunakan media pembelajaran matematika.Melalui penggunaan media pembelajaran matematika yang ada,siswa akan melihat langsung keteraturan dan pola strukur yang terdapat dalam penggunaan media pembelajaran matematika yang diperhatikannya.
Tahapan belajar menurut Brunner
1. Tahap enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
2. Tahap ikonik
Tahapan dimana kegiatan siswa berhubungan dengan mental, merupakan gambaran dari objek yang dimanipulasinya.
3. Tahap simbolik
Tahapan dimana anak-anak memanipulasi simbol-simbol atau objek tertentu.
9.    Teori Gestalt
Gestalt menyatakan bahwa penguasaan akan diperoleh apabila ada prasyaratndan latihan hafal atau drill yang diulang-ulang sehingga tidak mengherankan jika ada topic-topik di tata secara urut seperti perkalian bilangan cacah kurang dari sepuluh ( Rosseffendi,19993:115-116).
Tokoh aliran ini adalah John Dewey.Ia mengemukakan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian
b. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan intelektual siswa.
c. Mengatur suasana kelas agar siswa siap belajar.
10.    Teori belajar W. Brownell
Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika merupakan belajar bermakna dan pengertian hal ini sesuai dengan teori Gestalt yang menyatakan bahwa latihan hafal atau drill sangat penting dalam kegiatan pembelajaran yang diterapkan setelah tertanamnya pengertian (Ruseffendi, 1993: 117).
11. Teori Dienes (Joyfull Learning)
Zoltan P.Dienes adalah seorang matematikawan yang memfokuskan perhatiannya pada cara pengajaran.Dienes menekankan bahwa dalam pembelajaran sebaiknya dikembangkan suatu proses pembelajaran yang menarik sehingga bisa meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika.
12. Teori Polya
Pemecahan masalah merupakan aktivitas intelektual yang paling tinggi. Pemecahan masalah harus didasarkan atas adanya kesesuaian dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa, supaya tidak terjadi stagnasi.
Tahapan pemecahan masalah:
1) Memahami masalah
2) membuat rencana/cara penyelesaian masalah
3) menjalankan rencana/menyelesaikan masalah
4) melihat kembali/recek.

13. Freudenthal dan Treffers (RME: Realistic Mathematics Education)‏ 
•       pematematikaan: horizontal (H), diteruskan Vertikal (V);
realistic (H+,V+)‏
•       mekanistik (drill & practice: (H- dan V-); empiris (H+, V-);
strukturilistik (H-, V+)‏
14. Teori Van Hiele
Tahap perkembangan siswa dalam memahami geometri:
1) Pengenalan
2) analisis
3) pengurutan
4) deduksi
5) keakuratan (rigor)
Menurut Van Hiele ada tiga unsure dalam pengajaran matematika yaitu waktu,materi pengajaran danmetode pengajaran,jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi peningkatan kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi
15. John Dewey (CTL) 
•      mengkaitkan bahan pelajaran dengan situasi dunia nyata
•      mendorong siswa menghubungkan yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari, pengalaman sesungguhnya dan penerapannya / manfaatnya
•      strategi: authentic, inkuiri, praktek kerja, pemecahan masalah
16. Aliran latihan mental
Otak diibaratkan seperti otot, jika ingin kuat harus sering dilatih, makin keras dan sulit latihannya akan lebih baik hasilnya.

17. Teori Tollman
Sesungguhnya, pada tahun 1930 pakar psikologi AS Edward C. Tolman sudah meneliti proses kognitif dalam belajar dengan penelitian eksperimen bagaimana tikus belajar mencari jalan melintasi maze (teka-teki berupa jalan yang ruwet). Ia menemukan bukti bahwa tikus-tikus percobaannya membentuk “peta kognitif” (atau peta mental) bahkan pada awal eksperimen, namun tidak menampakakan hasil belajarnya sampai mereka menerima penguatan untuk menyelesaikan jalannya melintasi maze—suatu fenomena yang disebutnya latent learning atau belajar latent. Eksperimen Tolman
menunjukkan bahwa belajar adalah lebih dari sekedar memperkuat respons melalui penguatan.
18. Teori Clark Hull
Clark Hull mengemukaan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusi. Menurutnya tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup.
19. Teori Bloom dan Krathwohl
Teori Bloom dan Krathwohl mengemukakan tiga hal yang bisa dikuasai oleh siswa, meliputi: ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah Afektif. Tiga ranah itu tercakup dalam teori yang lebih dikenal sebagai Taksonomi Bloom.
20.  Teori Kolb
Kolb membagi tahapan belajar ke dalam empat tahapan, yaitu:
a. pengalaman konkret
b. pengamatan aktif dan reflektif
c. konseptualisasi
d. eksperimentasi aktif
21. Teori Habermas
Habermas berpendapat bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Lebih lanjut ia mengelompokkan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu:
a. belajar teknis
b. belajar praktis
c. belajar emansipatoris
22.  Teori Landa
Menurut Landa ada dua proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu sasaran. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen menuju ke beberapa sasaran sekaligus.
23. Teori Pask dan Scott
Pask dan Scott juga membagi proses berpikir manjadi dua macam. Pertama pendekatan serialis yang menyerupai pendekatan algoritmik yang dikemukakan Landa. Jenis kedua adalah cara berpikir menyeluruh yaitu berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi.

Jenis-jenis Penelitian

Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.
Fenomena disajikan secara apa adanya hasil penelitiannya diuraikan secara jelas dan gamblang tanpa manipulasi oleh karena itu penelitian ini tidak adanya suatu hipotesis tetapi adalah pertanyaan penelitian. Analisis deskriptif dapat menggunakan analisis distribusi frekuensi yaitu menyimpulkan berdasarkan hasil rata-rata. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan, atau dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik.
Jenis penelitian yang termasuk dalam kategori deskriptif adalah studi kasus dan penelitian surey.

Penelitian Studi Kasus

Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif; Misalnya satu pasien, keluarga, kelompok, komunitas atau institusi. Meskipun jumlah subyek cenderung sedikit, jumlah variabel yang ditiliti sangat luas. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui semua variabel yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Penggalian data dapat melalui kuisioner, wawancara, observasi maupun data dokumen. Deskripsi dari studi kasus tergantung dari keadaan kasus tetapi tetap mempertimbangkan waktu. Keuntungan yang peling besar dari desain ini adalah pengkajian secara rinci meskipun jumlah dari responden sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran satu unit subyek secara jelas. Misalnya, studi kasus tentang asuhan keperawatan pasien dengan typoid di RS. Peneliti akan mengkaji variabel yang sangat luas dari kasus diatas mulai dari menemukan masalah bio-psiko-sosio-spiritual.

Penelitian Survey

Penelitian survey adalah penelitian yang mengambil sample dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun, 1998). Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Survey adalah suatu desain yang digunaan untuk penyelidikan informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu popilasi. Pada survey tidak ada intervensi, survey mengumpulkan informasi dari tindakan seseorang,pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai.
Penggalian data dapat melalui kuisioner, wawancara, observasi maupun data dokumen. Penggalian data melalui kuisioner dapat dilakukan tanya jawab langsung atau melalui telepon, sms, e-mail maupun dengan penyebaran kuisioner melalui surat. Wawancara dapat dilakukan juga melalui telepon, video confeence maupun tatap muka-langsung. Keuntungan dari survey ini adalah dapat memperoleh berbagai informasi serta hasil dapat dipergunkan untuk tujuan lain. Akan tetapi informasi yang didapat sering kali cenderung bersifat superfisial. Oleh karena itu pada penelitian survey akan lebih baik jika dilaksanakan analisa secara bertahap.
Pada umumnya survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengambil data. Survei menganut aturan pendekatan kuantitatif, yaitu semakin sample besar, semakin hasilnya mencerminkan populasi. Penelitian survey dapat digunakan untuk maksud penjajakan (eksploratif), menguraikan (deskriptif), penjelasan (eksplanatory) yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesa, evaluasi, prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan dating, penelitian operational dan pengembangan indikaor-indikator social.


Penelitian Hubungan/korelasional (minimal 2 variabel penelitian).Penelitian korelasional dimaksudkan untuk mencari atau menguji hubungan antara variabel. Peneliti mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkenalkan, menguji berdasarkan teori yang ada. Desain yang sering digunakan adalah cross-sectinal.
Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel, Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti variasi variabel yang lain. Dengan demikian, dalam rancangan penelitian korelasional peneliti melibatkan minimal dua variabel.
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis alternatif (H1) yang berbunyi ”Ada hubungan antara variabel x dan y” dan hipotesis nol (HO) yang berbunyi ” Tidak ada hubungan antara variabel x dan y”.

Skema Penelitian Deskriprif Korelasional

Variabel X -----------Variabel Y

Interpretasi Hub.

Penilaian dari interpeasi ini adalah semakin mendekati nilai positif atau negatif satu (-/+ 1) adalah semakin signifikan atau semakin erat hubungannya.
Nilai ( + 1 )berarti semakin tinggi nilai variabel x semakin tinggi
Nilai variabel y

dan Nilai( - 1) berarti semakin rendah nilai vari abel x semakin rndah pula nilai variabel y nya.

Jenis Penelitian Komparasi/ Perbedaan
Penelitian komparasi atau perbedaan adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk membedakan atau membandingkan hasil penelitian antara dua kelompok penelitian.
Ada dua hal kelompok penelitian yaitu dua kelompok penelitian yang berbeda dan tidak saling berhubungan dan dua kelompok penelitian yang saling berhubungan.
Analisis yang digunakan adalah:
1. Analisis T. Test, Analisis Wilcoson atau mc nemar analisa ini digunakan untuk uji beda dua kelompok untuk data interval , rasio, dua kelompok yang berbeda tidak saling berhubungan (independent-sampel T test).
2. Analisis Paired t test, Jika dua kelompok mempunyai anggota yang sama dan mempunyai korelasi maka dipergunakan uji sampel berpasangan .

Jenis Penelitian pengaruhPenelitian ini ditujukan untuk menguji variabel independen terhadap variabel dependen. Karakteristik desain pengaruh adalah sebagai berikut:
1. variable independent menentukan intensitas variabel dependen
2. Dapat dijelaskan mekanisme perubahannya, (Tetapi) bukan sebagai penyebab (causation)
3. Jenis desain yang dipergunakan adalah eksperimental yaitu
a. True Expeimental (satu kelompok tidak dilakukan intervensi)
b. Quasy Experimental (satu kelompok dilakukan intervensi sesuai dengan metode yang dikehendai, kelompok lainnya dilakukan seperti biasanya)
c. Pre-Experimental: post only; pre-post. Satu kelompok dilakukan intervensi X dan kelompok lain dilakukan intervensi Y

Pembelajaran Aktif


Pengertian Pembelajaran Aktif 

Pembelajaran aktif (active learning) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Mereka secara aktif menggunakan otak mereka baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata (Hisyam Zaini, 2008: xvi).

Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran (Silberman,1996:6).

Pembelajaran aktif merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran baik dalam bentuk interaksi sesama siswa maupun siswa dengan pengajar pada proses pembelajaran aktif tersebut (Machmudah, 2008).

Jadi pembelajaran aktif adalah suatu model pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif, siswa diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

Karakteristik Pembelajaran Aktif

Menurut Bonwell dan Eison (dalam Machmudah, 2008:64) pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analistis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
  2. Siswa tidak mendengarkan pelajaran secara pasif, tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
  3. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pelajaran.
  4. Siswa lebih banyak dituntut berpikir kritis menganalisa dan melakukan evaluasi.
  5. Umpan balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Keuntungan Pembelajaran Aktif 

Pembelajaran aktif selain mengoptimalkan segi keaktifan siwa dalam pembelajaran juga banyak memberikan keuntungan lain yang mendukung kegiatan pembelajaran. Keuntungan pembelajaran aktif diantaranya sebagai berikut:

  1. Siswa akan lebih termotivasi karena akan lebih mudah belajar di saat enjoy.
  2. Berlangsung dalam lingkungan yang tenang, karena percobaan dan kegagalan diterima.
  3. Adanya partisipasi dari semua kelompok
  4. Tiap orang bertanggung jawab atas pembelajarannya masing-masing.
  5. Fleksibel dan relevan.
  6. Sesuatu menyatakan pemikirannya.
  7. Masing-masing memberikan koreksi jika ada kesalahan.

Menurut Machmudah (2008:72), secara umum dengan melakukan pembelajaran aktif (Active Learning) akan diperoleh hal-hal sebagai berikut :

  1. Interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolodasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar.
  2. Setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap siswa sehingga terdapat individual accountability.
  3. Proses pembelajaran aktif ini agar berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga dapat memupuk social skill.

Sintak Pembelajaran Aktif 

Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa (anak) didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. (Machmudah, 2008). Berikut ini adalah sintak model pembelajaran aktif (Active Learning)                

  • Fase 1. Konsep Umum dipresentasikan kepada kelompok
  • Fase 2. Informasi khusus tentang konsep diterima oleh kelompok
  • Fase 3. Aktivitas dilakukan oleh kelompok
  • Fase 4. Kelompok mengerahkan dan konsekuensi selama aktivitas
  • Fase 5. Diskusi kelompok dilaksanakan langsung diikuti kesimpulan dari aktivitas
  • Fase 6. Prinsip umum didiskusikan
  • Fase 7. Aplikasi kehidupan spesifik berasal dari dasar atau prinsip-prinsip umum
  • Fase 8. Aplikasi kehidupan diinternalisasi oleh tiap individu berdasarkan kebutuhan dan kesiapan
  • Fase 9. Perwakilan-perwakilan bertindak berdasarkan apa yang telah dipelajari

Daftar Pustaka

  • Machmudah, Ummi. 2008. Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. UIN-Malang Press
  • Silberman. 1996. 101 Strategies To Teach Any Subject. Massachusetts: A Simon & Schuster Company.
  • Zaini, Hisyam. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.


Metodologi PTK

Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi ciri-ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatarbelakangi berbagai metode yang dipergunakan dalam aktivitas ilmiah. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuwan maupun peneliti di dalam kegiatan ilmiah mereka. Hal itu biasa disebut metodologi ilmiah.
Dalam melakukan penelitian tindakan diperlukan suatu metodologi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam melaksanakan metodologi PTK, yaitu :
1. Inovatif
PTK yang dilakukan harus jelas inovatif atau menciptakan hal-hal baru dalam penyelesaian masalah belajar. Penemuan strategi, teknik, sarana pembelajaran, dan sistem asesment yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah pembelajaran. Usahakan sesuatu yang memang lebih baik dari sebelumnya. Harus ada yang berubah setelah dilakukan penelitian yang dilakukan oleh guru melalui PTK
2. Kolaboratif
Kerjasama antara guru-guru, dosen-guru dan  dosen-dosen sangat diperlukan agar dapat salaing mengisi sehingga akan banyak khasanah ilmu pengetahuan yang didapatkan. Kerjasama dengan teman sejawat justru sangat baik lagi, karena dari sanalah para guru dapat memperbaiki proses pembelajarannya secara tim. Tetapi alangkah lebih baiknya lagi ada dosen dari perguruan tinggi yang turut membantu menyelesaikan masalah pembelajaran yang di sekolah melalui PTK.
3. Reflektif
Reflektif terhadap proses dan hasil pembelajaran secara terus menerus. Guru harus bercermin terhadap dirinya sendiri untuk selalu melakukan perbaikan dalam proses pembelajarannya di sekolah. Memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar. PTK pada dasarnya adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri (self reflektive) yang dilakukan oleh para guru dalam situasi sekolahl untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran yang terjadi.
4. Siklusistis
PTK adalah penelitian yang berbentuk siklus. Dari setiap siklus itulah guru akan menemukan kepuasan dalam penelitiannya. Guru akan berhenti dalam suatu siklus bila dia telah menemukan pemecahan masalahnya.
Selain hal-hal tersebut di atas, dalam melakukan atau melaksanakan PTK di sekolah juga harus jelas prosedurnya. Langkah-langkahnya harus jelas. Ditulis runut dan mudah dipahami. Dari prosedur PTK biasanya kita menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku siswa yang dapat diamati. Karena itu orang lebih mengenal PTK sebagai sebuah penelitian kualitatif. PTK juga digunakan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru serta untuk memecahkan masalah-masalah belajar melalui penerapan langsung di kelas. Oleh sebab itu agar pelaksanaannya jelas dan terstruktur rapi, maka diperlukan adanya suatu prosedur penelitian. Dalam PTK hal ini biasa disebut prosedur PTK.
Gambar di bawah ini adalah contoh prosedur sederhana dalam PTK.
Prosedur PTK dengan model Kemmis & Mc.Taggart yang terdiri dari :
  1. Identifikasi masalah pembelajaran
  2. Menganalisis dan merumuskan masalah pembelajaran
  3. Merencanakan tindakan
  4. Melaksanakan tindakan, observasi, dan asesmen
  5. Menganalisis data hasil observasi dan asesmen serta interpretasi
  6. Melakukan refleksi dan merencanakan tindak lanjut untuk siklus berikutnya
Identifikasi masalah selalu dimulai dari pertanyaan guru: Mengapa? Identifikasi masalah terlihat dari proses pembelajaran yang membuat guru bertanya pada dirinya sendiri. Keresahannya dalam mengatasi masalah pembelajaran dapat terlihat dari :
  • Ada kesenjangan, merasakan betul hasil yang diharapkan kurang memuskan guru
  • Tidak seperti harapan, angan-angan dengan kenyataan di lapangan sangat berbeda
  • Hasil tidak memuaskan, hasil belajar siswa sangat rendah dan perlu peningkatan hasil belajar melalui cara berbeda.
Merasakan adanya masalah dalam proses pembelajaran dapat dirasakan dari:
  • Masalah nyata yang dihadapi dalam sehari-hari
  • Masalah siswa/mahasiswa
  • Masalah guru/dosen/widyaiswara
Karena itu diperlukan refleksi awal dalam merasakan adanya masalah.
Dari masalah-masalah  yang dirasakan oleh guru, mulailah identifikasi masalah :
  • Tulislah semua hal terkait dengan hal yang memerlukan perbaikan
  • Memilah dan mengklasifikasikan masalah
  • Mengurutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya
  • Secara kolaboratif menetapkan masalah yang akan diselesaikan melalui kaji tindak
Harus pula diingat bahwa dalam menganalis dan merumuskan masalah ada beberapa hal yang harus ditulis guru yaitu:
  • Masalah harus masalah faktual yang terjadi di sekolah
  • Harus dapat dicari dan diidentifikasi cara penyelesaiannya melalui PTK
  • Memiliki nilai strategis bagi peningkaan atau perbaikan proses dan hasil
  • Memiliki alternatif tindakan yang dipilih
Karena itu analisis dan rumusan masalah harus jelas, spesifik, dan operasional yang memiliki 4 aspek, antara lain :
  • Aspek substansi
Bobot manfaat dari tindakan yang dipilih
  • Aspek orisinalitas
Tindakan yang dipilih merupakan hal baru
  • Aspek formulasi
Dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, spesifik dan eksplisit
  • Aspek teknis
Kemampuan dosen/guru untuk melaksanakan inovasi tersebut
Rumusan masalah juga harus:
  • Jelas, tidak memiliki makna ganda
  • Dirumuskan dalam kalimat tanya
  • Menunjukkan hubungan antara permasalahan dan tindakan
  • Dapat diuji secara empirik
  • Menunjukkan secara jelas subjek dan/atau lokasi pengembangan
  • Menunjukkan secara jelas tindakan yang diimplementasikan
Contoh Rumusan Masalah lainnya:
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan siswa kelas V SD Lab PGSD dalam menyelesaikan  soal cerita dengan pembelajaran kooperatif?
  • Bagaimana meningkatkan kemampuan interpersonal siswa kelas II SD SD Al Izhar Rawamangun melalui metode bermain peran?
Dalam melaksanakan PTK dimulai dari perencanaan. Perencanaan itu dimulai dari Merencanakan Tindakan yang akan dilakukan guru misalnya:
  • Kolaborasi antara guru-dosen atau guru-guru
  • Kajian teoretik di bidang pembelajaran/pendidikan
  • Kajian hasil-hasil penelitian relevan
  • Diskusi dengan teman sejawat, pakar pendidikan, peneliti, dll
  • Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan yang sudah dituangkan dalam bentuk program
  • Refleksi diri mengenai pengalaman sebagai guru/dosen
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan PTK adalah :
  • Membuat skenario tindakan
  • Mempersiapkan sarana dan prasarana
  • Mempersiapkan instrumen penelitian
  • Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan
Dalam membuat instrumen penelitian harus diperhatikan :
  • Instrumen untuk INPUT ( mengumpulkan data masukan)
  • Instrumen untuk PROSES (menumpulkan data pengamatan)
  • Instrumen untuk OUTPUT (evaluasi pencapaian hasil)
Instrumen untuk proses:
Instrumen pengamatan (anecdotal record) for:
  • Instructional events (peristiwa penting)
  • Teacher-student interaction (terjadi interaksi antara siswa dan guru)
  • Form of Grouping paterns (format pengelompokan)
  • Pre, whilst and post teaching activities (sebelum,dan selama pembelajaran)
  • Routin involving students (secararutin mendampingi siswa)
  • Stuctured observation (pengamatan terstruktur)
  • Checklist for management models (model-model manjemen)
  • Checklist for examining questions (pertanyaan-pertanyaan pengujian)

Instrumen Pengamatan terhadap Objek yang Diteliti
  • Tes diagnostik (diagnostic test)
  • Catatan anekdotal perilaku objek  (anecdotal record for observing objects)
  • Format bayangan (shadowing form)
  • Format anekdotal organisasi kelas
  • Format peta kelas
  • Observasi kelas terstruktur
  • Lembar cek wawancara personalia sekolah
  • Lembar cek kompetensi

Instrumen Lainnya
  • Pedoman Pengamatan
  • Pedoman Wawancara
  • Pedoman Pengkajian Data Dokumen
  • Tes dan Asesmen Alternatif
Melaksanakan Tindakan
Ø  Melaksanakan skenario tindakan  (mengaplikasikan inovasi tindakan)
Ø  Melaksanakan observasi (Observasi proses)
Ø  Melaksanakan asesmen
Menganalisis Data Hasil Observasi, Asesmen, dan Interpretasi
Ø  Data kualitatif
Ø  Data Kuantitatif
Ø  Dianalisis melalui:
v  Reduksi data
v  Paparan data
v  Interpretasi data
v  Penyimpulan hasil analisis

Observasi-Interpretasi
Ø  Peneliti melakukan observasi terhadap:
v  Dampak tindakan, terutama perubahan dinamika kelompok dalam latar yang diteliti
v  Hasil belajar non-kognitif
v  Interaksi guru-siswa, siswa-siswa, serta kondisi kelas
Ø  Keterkaitan antara hasil analisis dan indikator keberhasilan
Ø  Memahami Prinsip PTK:
Ø  Anda Berhasil?                                         STOP/Reconfirm
Ø  Anda Belumberhasil?                                Siklus berikutnya
Ø  Instrumen pengamatan (anecdotal record)

Perencanaan Tindak Lanjut
Ø  Jika siklus I telah selesai diteruskan dengan siklus II
Ø  Siklus dilaksanakan dengan langkah-langkah seperti pada siklus sebelumnya
Ø  Tindakan yang dilakukan merupakan PERBAIKAN dari tindakan pada siklus sebelumnya
Ø  Jika masih diperlukan siklus III, maka tindakan juga merupakan perbaikan tindakan dari siklus kedua