SALAM

Assalamualaikum SELAMATDATANG DI BLOG DEVI LESTARI

Thursday, October 25, 2012

Strategi Pembelajaran Langsung


STRATEGI PEMBELAJARAN LANGSUNG

1        Strategi Belajar dan Mengajar.
      Pada setiap pengajaran ada tujuan yang harus dicapai dan untuk pencapaian tujuan tersebut kita perlu menyampaikan topik – topik yang  didalamnya ada konsep – konsep yang harus sampai pada siswa, dan untuk itu diperlukan pendekatan tertentu seperti pemecahan masalah , latiahan soal , latih – hafal dan mungkin dengan pendekatan yang lainnya.
      Andi Hakim Nasution ( 1988 : 243 ) menyatakan bahwa dalam suatu pengajaran yang berkaitan dengan suatu materi kurikulum tertentu prinsip keterlaksanaan dipenggaruhi oleh empat komponen pokok yaitu pembawa materi , penyaji materi , pendekatan dan penerima materi. Pengaturan materi kurikulum tersebut dinamakan strategi belajar mengajar.
      Pada pengajaran matematika sampai sekarang ini masih menggunakan strategi belajar mengajar langsung dan sempit. Maksudnya adlah materi pelajaran yang dibawakan guru itu sempit ( dikumpulkan oleh guru itu sendiri ) , penyajinya guru itu sendiri pendekatan yang digunakan deduktif dan siswa yang menerimanya adalah kelompok besar, padahal bila dilihat dari kombinasi yang ada dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 81 kombinasi yang dapat dilaksanakan dalam pengajaran.

2        Strategi Pembelajaran Aktif
a.      Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif
      Strategi merupakan istilah lain dari pendekatan, metode atau cara. Di dalam kepustakaan pendidikan istilah-istilah tersebut di atas sering digunakan secara bergantian. Menurut Udin S. Winataputra & Tita Rosita ( 1995: 124) istilah strategi secara harfiah adalah akal atau siasat. Sedangkan strategi pembelajaran diartikan sebagai urutan langkah atau prosedur yang digunakan guru untuk membawa siswa dalam suasana tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.
Sedangkan pembelajaran aktif menurut Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani (2007:xvi) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Di sisi lain, Silberman (2006:35-41) menyatakan lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Sehingga dari pernyataan tersebut perlengkapan kelas perlu disusun ulang untuk menciptakan formasi tertentu yang sesuai dengan kondisi belajar siswa. Namun begitu  di tidak ada satu susunan atau tata letak yang mutlak ideal, namun ada banyak pilihan yang tersedia. Sepuluh kemungkinan susunan tata letak meja dan kursi yang disarankan sebagai berikut: bentuk U, gaya tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja, pengelompokan berpencar, formasi tanda pangkat, ruang kelas tradisional, auditorium. Sejalan dengan pendapat tersebut, Syamsu Mappa dan Anisa Basleman (1994:46) menyatakan penggunaan meja, kursi dan papan tulis berroda lebih memungkinkan berlangsungnya proses interaksi belajar dan membelajarkan yang bergairah.
Aktifitas siswa belajar di kelas terwujud bila terjadi interaksi antar warga kelas.  Boakes dalam Mar’at (1984:110) menyatakan bahwa di dalam interaksi ada aktifitas yang bersifat resiprokal (timbal balik) dan berdasarkan atas kebutuhan bersama, ada aktifitas daripada pengungkapan perasaan, dan ada hubungan untuk tukar-menukar pengetahuan yang didasarkan take and give, yang semuanya dinyatakan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Lebih lanjut, Syamsu Mappa dan Anisa Basleman (1994:46) menyatakan hubungan timbal balik antar warga kelas yang harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar. Dengan demikian, upaya mengaktifkan siswa belajar dapat dilakukan dengan mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas. Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, berdasarkan teori kebutuhan Maslow, Silberman (2006:30) menyatakan kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa dipenuhinya kebutuhan untuk mencapai sesuatu, mengambil resiko, dan menggali hal-hal baru.
Dari pembahasan di atas, tip – tip dibawah ini dapat digunakan guru untuk mengarah pada strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam  belajar:
1)      Selalu berpenampilan menarik dan penuh wibawa.
      Kesan pertama siswa saat bertemu gurunya adalah fisik dari guru tersebut. dengan penampilan yang menarik dan penuh wibawa akan membuat kesan yang positif dari siswa, sehingga dengan mudah guru akan dapat membawa siswa kedalam suasana belajar yang guru inginkan.
2)      Manfaatkan pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan antar warga kelas, tunjukkan cara-cara belajar matematika yang baik, buatlah kesepakatan (kontrak) terkait norma-norma yang harus dipatuhi oleh warga kelas. 
3)      Buatlah formasi tata letak meja, kursi, pajangan dinding, dan perabot kelas yang lain sesuai dengan kesepakatan warga kelas dan kebutuhan. 
4)      Siapkan semua peralatan  yang akan digunakan di dalam ruang kelas sebelum memulai pembelajaran.
5)      Mulailah proses belajar mengajar dengan materi yang ringan  tetapi menantang yang dapat merangsang siswa turut aktif berfikir. Kemudian masuk pada materi yang akan kita ajarkan dengan senantiasa melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa lebih mudah memahami materi yang kita berikan.
6)      Selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan salam yang menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.
7)      Gunakan bahasa yang santun, hormat, dan dengan nada bicara yang lembut.
8)      Memahami dan menghormati berbagai perbedaan yang ada.
9)      Menghormati kerahasiaan setiap siswa
10)  Tidak merendahkan dan mencemooh siswa
11)  Memberi kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk bicara dan jangan mengintrupsi pembicaraan siswa
12)  Bila seorang siswa mengemukakan pendapat, jadilah pendengar yang baik dan selanjutnya berikan kesempatan kepada  siswa lain untuk memahaminya dan memberikan komentarnya.
13)  Memahami dan menghormati pendapat setiap siswa, bila perlu melancarkan kritik: gunakan bahasa yang mengayomi, dan bila kritik bersifat pribadi seyogyanya dilakukan di ruang khusus.
14)  Sekali waktu, berilah kesempatan kepada siswa untuk memberikan saran atau kritik guna perbaikan proses pembelajaran. 
15)  Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan siswa di luar kelas.

b.      Prosedur Pembelajaran Aktif
         Proses pembelajaran di kelas dapat dipandang sebagai tiga bagian kegiatan yang terurut, yaitu: kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Dengan demikian, strategi pembelajaran aktif dapat dirumuskan sebagai prosedur kegiatan yang mengaktifkan siswa pada setiap bagian kegiatan secara terurut. Prosedur tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)      Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar Matematika Pada Awal Pembelajaran
Dimensi pertama dalam peristiwa belajar matematika adalah membangun sikap dan persepsi positif terhadap belajar dan matematika sebagai obyek belajar. Kesiapan mental untuk terlibat dalam pembelajaran mutlak dicapai dalam mengaktifkan siswa belajar matematika, oleh karenanya kegiatan membangunkan sikap dan persepsi positif siswa harus dilakukan sejak awal dimulainya pembelajaran. Hal yang harus dilakukan guru pada awal pembelajaran adalah membangunkan minat, membangunkan rasa ingin tahu, dan merangsang siswa untuk berfikir. Bila minat siswa, rasa ingin tahu siswa telah bangkit, serta  siswa telah terangsang untuk berfikir ini berarti siswa telah siap secara mental untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran matematika,  dan bila terjadi sebaliknya berarti secara mental siswa belum siap terlibat dalam pembelajaran.
Dengan memodifikasi strategi berbagi pengetahuan secara aktif, Silberman  (2006:100-102), mengawali kegiatan pembelajaran aktif dengan prosedur sebagai berikut:
a)      Tentukan rentang waktu yang pasti untuk kegiatan awal pembelajaran.
b)      Ucapkan salam pembuka yang menghangatkan siswa.
c)      Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran matematika yang akan diajarkan. Misalnya:
(1)   kata-kata untuk didefinisikan,
(2)   soal-soal sederhana dari aplikasi rumus yang telah dikenal,
(3)   pertanyaan tentang aplikasi matematika sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
b)      Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.
c)      Perintahkan siswa untuk menyebar di kelas, menanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya, Doronglah siswa untuk saling membantu.
d)     Perintahkan untuk kembali ke tempat semula dan gunakan teknik tanya jawab untuk membahas jawaban yang mereka dapatkan.
e)      Gunakan pertanyaan-pertanyaan arahan sebagai upaya merangsang berfikir siswa menjawab pertanyaan yang tak satupun siswa bisa menjawab.
f)       Gunakan informasi-informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini sebagai sarana untuk memperkenalkan topik-topik penting materi pelajaran dalam kegiatan inti.
Secara umum, manusia tidak menyukai suatu kegiatan yang kurang bervariasi. Oleh karenanya perlu dipilih kegiatan lain sebagai variasi kegiatan di atas. Berikut ini dapat menjadi alternatif pilihan.
(1)   Daftar pertanyaan dapat diganti dengan menyediakan kartu indeks dan perintahkan siswa untuk menuliskan satu informasi yang menurut siswa akurat tentang materi yang akan diajarkan.
(2)   Kegiatan menyebar dapat diganti dengan merotasi pertukaran pendapat antar kelompok belajar di kelas.

Metode dan media pemelajaran dalam Standar Proses Pendidikan


A.    Penggunaan Metode Pembelajaran
            Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk megimplementasikan strategi pembelajaran yaitu antara lain adalah:
1.      Metode ceramah
      Adalah cara penyampaian pelajaran melalui pentutrana secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.
Kelebihan:
·         Murah dan mudah untuk dilakukan
·         Dapat menyajikan materi pelajran yang luas
·         Dapat memberikan pokok-pokok materi yang ditonjolkan
·         Guru dapat mengontrol kelas
·         Organisasi kelas dapat diatur menjadi lebih sederhana
Kelemahan:
·         Materi yang dikuasai siswa terbatas pada apa yang disampaikan guru
·         Mengakibatkan verbalisme
·         Membosankan
·         Sulit megetahui apakah siswa selurunya telah memahami materi yang disampaikan.
2.      Metode demonstrasi
      Adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi benda tertentu, baik sebenarnya maupun hanya tiruan.
Kelebihan:
·         Dapat menghindari verbalisme
·         Pembelajaran menjadi lebih menarik
·         Siswa mampu memandingkan teori dan kenyataan
Kelemahan:
·         Memerlukan persiapakn yang lebih matang
·         Memerlukan alat, bahan, dan tempat yang memadai
·         Memerlukan keterampilan dan keahlian guru secara khusus.
3.      Metode diskusi
      Adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa,  serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998).
Kelebihan:
·         Dapat merangsang ide-ide kreatif siswa
·         Dapat melatih dan mebiasakan diri bertukar pikiran dalam menyelasaikan permasalahan
·         Melatih siswa mengungkapkan pendapat.
Kelemahan:
·         Sisa yang memeliki keterampilan berbicara sering mendominasi diskusi
·         Topik yang dibahas meluas sehingga penarikan kesimpulan menjadi kabur
·         Memerlukan waktu yang panjang
·         Sering terjadi perbedaan pedapat yang bersifat emosional dan tidak terkontrol.
4.      Metode simulasi
      Adalah cara penyajian pelajaran dengan mengunakan situasi tiruan untuk memahami konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
Kelebihan:
·         Dapat menjadi bekal siswa dalam menghadapi situasi sesungguhnya
·         Dapat mengembangkan kretivitas siswa dan menarik
·         Memupuk keberanian dan percaya diri siswa
·         Memperkaya pengalaman siswa untuk menghapdapi berbagai situasi sosial yang sesungguhnya
Kelemahan:
·         Pengalaman yang diberikan tidak selalu tepat atau sesuai dengan kenyataan
·         Terkadang tujuan pembelajran menjadi terabakan
·         Faktor psikologis siswa sering mempengaruhi dalam melakukan simulasi.

B.     Pemanfaatan Media dan sumber Belajar
1.      Fungsi dan manfaat pengggunaan media pembelajaran
      Secara khusus media pembelajaran memiliki fungsi an peran sebagai berkut:
·         Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
·         Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
·         Menambah gairah dan motivasi belajar  siswa
2.      Klasifikasi dan macam-macam media pembelajaran
a.       Berdasarkan sifatnya
·         Media auditif              :  memiliki unsur suara
·         Media  audio               : hanya dapat dilihat, tanpa suara
·         Media audiovisual       : memiliki unsur suara dan unsur gambar
b.      Berdasarkan kemampuan jangkauannya
·         Media yang jangkauannya luas dan serantak seperti radio dan TV
·         Mesia yang jankauannya terbatas oleh ruang an waktu seperti film, video, dan sebagainya.
c.       Berdasarkan cara atau tejnik pemakaian
·         Media yang diproyeksikan seperti film strip, slide, tranparansi.
·         Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan.
3.      Prinsip-prinsip penggunaan media
            Ada sejumlah prinsip yang perlu diperhhatikan dalam penggunaan media pembelajaran:
a.       Media yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran
b.      Media yang digunakan harus sesuai dengan meteri pembelajaran
c.       Media yang dignakan harus seseuai sengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa
d.      Media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien
e.       Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
4.      Sumber belajar
           Sumber belajar adalah segala sesuatu yang digunakan oleh siswa dalam mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Beberapa sumber belajar yang dapat digunakan oleh guru dalam setting pembelajaran di kelas di antaranya adalah : manusia, alat dan bahan penagjaran, aktivitas, dan lingkungan.

Strategi Pembelajaran Ekspositori ( SPE)


A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Tugas pengawas satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi manajerial kepala sekolah, namun juga membina guru melalui supervisi akademik. Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru, terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih strategi pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif, dan belajar dalam suasana senang serta efektif.

Menghadapi tugas tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/ metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan pengawas sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tanpa didukung teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan respek dari para guru yang dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang pendidikan dasar pengawas harus memahami garis besar strategi pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika, IPA, IPS, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Materi pelatihan ini dimaksudkan memberikan wawasan bagi pengawas dalam melaksanakan tugas supervisi akademik di SD/MI.


2. RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana konsep dan prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori ?
b. Bagaimana prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori?
c. Apa saja keunggulan dan kelemahan dari Strategi Ekspositori?

3. TUJUAN

a. Memberikan penjelasan mengenai konsep dan prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori dalam pembelajaran
b. Menguraikan tahapan penggunaan prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori dalam kegiatan pembelajaran
c. Menguraikan keunggulan dan kelemahan dari Strategi Ekspositori yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

B. PEMBAHASAN


STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI (SPE)

Aliran psikologi belajar yang sangat mempengaruhi SPE adalah aliran belajar behavioristik. Seperti yang telah dijelaskan dimuka, aliran belajar behavioristik lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antar stimulus dan respons, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat penting. Dari asumsi semacam inilah, muncul berbagai konsep bagaimana agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respons itu bisa berlangsung secara efektif. Dalam teori belajar koneksionisme contohnya, dikembangkan hukum-hukum belajar seperti hukum kesiapan, hukum pengaruh, dan hukum latihan; sedangkan dalam teori belajar classical conditioning dijelaskan bagaimana hubungan keterkaitan stimulus-respon bisa dipengaruhi oleh munculnya S2 sebagai stimulus prasyarat.


1. Konsep dan Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekpositori

a. Konsep Strategi Pembalajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi pelajaran secara optimal. Strategi ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering juga dinamakan istilah “calk and talk”

Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori:

1) Strategi ekpositori dilakukan dengan cara menyampaiakan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.
2) Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep terentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
3) Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.

SPE merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru, dominan sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademik siswa. Metode pembelajaran dengan kuliah merupakan bentuk strategi ekspositori.

SPE akan efektif manakala:
a) Guru akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa. Biasanya bahan atau materi baru itu diperlukan untuk kegiatan-kegiatan khusus.
b) Apabila guru menginginkan agar siswa mempunyai gaya model intelektual tertentu.
c) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan cocok untuk diprsentasikan.
d) Jika ingin membangkitkan keingintahuan siswa tentang topik tertentu.
e) Guru menginginkan untuk mendemonstrasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
f) Apabila seluruh siswa memiliki tingkat kesulitan yang sama sehingga guru perlu menjelaskan untuk seluruh siswa.
g) Apabila guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memilliki kemampuan rendah. Strategi ini sangat efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan untk anak-anak yang memiliki kemampuan yang kurang.
h) Jika lingkungan yang tidak mendukung untuk menggunakan strategi yang berpusat pada siswa.
i) Jika guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Dari beberapa poin diatas sudah ada sebagian yang diterapkan oleh beberapa guru yang mengajar di SDN Negeri Agung Kecamatan Buay Sandang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

b. Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori

Dalam penggunaan strategi pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru:

1) Berorientasi pada Tujuan
Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam strategi pembelajaran ekspositori melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Seperti kriteria pada umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang yang dapat diukur atau berorientasi pada kompetensi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dipahami, karena tujuan yang spesifik memungkinkan kita bisa mengontrol efektivitas penggunaan strategi pembelajaran.
2) Prinsip Komunikasi
Dalam proses komunikasi bagaimanapun proses sederhananya, selalu terjadi urutan pemindahan pesan dari sumber pesan ke penerima pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif manakala pesan itu dapat mudah ditangkap oleh penerima pesan secara utuh, dan sebaliknya. Sistem komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala penerima pesan tidak dapat menangkat setiap pesan yang disampaikan. Kesulitan menangkap pesan itu dapat terjadi oleh berbagai gangguan yang dapat menghambat kelancaran proses komunikasi. Akibat gangguan tersebut memungkinkan penerima pesan tidak memahami atau tidak dapat menerima sama sekali pesan yang ingin disampaikan.sebagai suatu strategi pembelanjaran yang menekankan sebagai pada proses penyampaian, maka prinsip komunikasi merupakan prinsip yang sangat penting untuk diperhatikan.

3) Prinsip Kesiapan
Dalam teori belajar koneksionisme, “kesiapan” merupakan salah satu hukum belajar. Inti dari hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merespon dengan cepat dari setiap stimulus manakala dalam dirinya sudsa memiliki kesiapan: sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespons setiap stimulus yang muncul manakala dalam dirinya belum memiliki kesiapan. Yang dapat kita tarik dari hukum belajar ini adalah, agar siswa dapat menerima informasi stuimulus yang kita berikan, terlebih dahulu kita harus memosisikan mereka dalam keadaan siap baik secara fisik maupun psikis untuk menerima pelajaran.

Oleh karena itu, sebelum kita menyampaikan informasi terlebih dahulu kita yakinkan apakah dalam otak anak sudah tersedia file yang sesuai dengan jenis informasi yang akan disampaikan atau belum, kalau seandainya belum maka terlebih dahulu harus kita sediakan dahulu fili yang akan menampung setiap informasi yang akan kita sampaikan.

4) Prinsip Berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada saat itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya. Ekspositori yang berhasil adalah manakala melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan, sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.


2. Prosedur Pelaksanaan Strategi Ekspositori

Sebelum diuraikan tahapan penggunaan strategi ekspositori terlebih dahulu diuraikan beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ini.

a. Rumuskan Tujuan yang Ingin Dicapai
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi penggunaan strategi ini.

Sering terjadi, proses pembelajaran dengan cara bertutur, guru terlena dengan pembahasan yang dilakukannya, sehingga materi pelajaran menjadi lebar, tidak fokus pada permasalahan yang sedang dibahas. Dengan rumusan tujuan yang jelas, hal ini tidak akan terjadi. Sebab, tujuan yang harus dicapai akan menjadi faktor pengingat bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

b. Kuasai Materi Pelajaran dengan Baik
Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi ekspositori. Penguasaan materi yang sempurna, akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan mudah mengelola kelas; ia akan bergeraqk berani menatap siswa, tidak takut denga perilaku-perilaku siswa yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran, begitupun sebaliknya.

Agar guru dapat menguasai materi pelajaran ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1) Pelajari sumber-sumber belajar yang mutakhir.
2) Persiapkan masalah-masalah yang mungkin muncul dengan cara menganalisis materi pelajaran sampai detailnya.
3) Buatlah garis besar materi pelajaran yang akan disampaikan untuk memandu dalam penyajian agar tidak melebar.

c. Kenali Medan dan Berbagai Hal yang Dapat Memengaruhi Proses Penyampaian
Mengenali lapangan atau medan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan ang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran. Beberpa hal yang berhubungan dengan medan yang harus dikenali diantaranya:
1) Latar belakang audiens atau siswa yang akan menerima materi.
2) Kondisi ruangan, baik menyangkut luas dan besarnya ruangan, pencahayaan, posisi tempat duduk, maupun kelengkapan ruangan itu sendiri.

Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:
a) Persiapan ( preparation )
b) Penyajian ( presentation )
c) Menghubungkan ( correlation )
d) Menyimpulkan ( generalization )
e) Penerapan ( aplication )

a) Persiapan ( preparation )
Tahap persiapan berkaiatan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekpositori sangat tergangtung pada langkah persiapan. Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah:
1) Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
2) Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
3) Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
4) Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan diantaranya adalah:
a) Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif
Memberikan sugesti yang positif akan dapat membangkitkan kekuatan pada siswa untuk menembus rintangan dalam belajar. Sebaliknya, sugesti yang negatif dapat mematikan semangat belajar.

b) Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai
Mengemukakan tujuan sangat penting artinya dalam setiap proses pembelajaran. Dengan mengemukakan tujuan siswa akan paham apa yang harus mereka kuasai serta mau dibawa kemana mereka.dengan demikian, tujuan merupakan “pengikat” baik bagi guru maupun siswa.

c) Bukalah file dalam otak siswa
Bagaikan kerja sebuah komputer, data akan dapat disimpan manakala sudah tersedia filenya. Demikian juga otak siswa, materi pelajaran akan bisa ditangkap dan disimpan dalam memori manakala sudah tersedia file yang sesuai. Artinya, sebelum kita menyampaikan materi pelajaran terlebih dahulu kita harus membuka file dalam otak siswa agar materi itu bisa cepat ditangkap.

b) Penyajian (presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini.

1) Penggunaan bahasa
Penggunaan bahasa merupakan aspek yang sangat berpengaruh untuk keberhasilan presentasi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa, yaitu:
a) Bahasa yang digunakan sebaiknya bahsa yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami.
b) Dalam penggunaan bahasa guru memerhatikan tingkat perkembangan audiens atau siswa.

2) Intonasi suara
Intonasi suara adalah pengaturan suara sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Guru yang baik akan memahami kapan ia harus meninggikan dan melemahkan suaranya.

3) Menjaga kontak mata dengan siswa
Dalam proses penyajian materi pelajaran, kontak mata merupakan hal yang sangat penting untuk membuat siswa tetap memerhatikan pelajaran. Oleh sebab itu, guru sebaiknya secara terus-menerus menjaga dan memeliharanya. Pandanglah siswa secara bergiliran, jangan biarkan pandangan mereka tertuju pada hal-hal diluar materi pelajaran.

4) Menggunakan joke-joke ang menyegarkan
Menggunakan joke adalah kemampuan guru untuk menjaga agar kelas tetap dan segar melalui penggunaan kalimat atau bahasa yang lucu. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan joke adalah:
1) Joke yang digunakan harus relevan dengan isi materi yang sedang dibahas.
2) Sebaiknya joke muncul tidak terlalu sering.

c) Menghubungkan (correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.

d) Menyimpulkan (generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan. Menyimpulkan berarti pula memberikan keyakinan kepada siswa tentang kebenaran suatu paparan. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1) Mengulang kembali inti materi yang menjadi pokok persoalan.
2) Memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
3) Pemetaan keterkaitan antarmateri pokok-pokok materi.

e) Mengaplikasikan (aplication)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya adalah:
1) Membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan.
2) Memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan.

Dari beberapa uraian yang telah dijelaskan berikut adalah untuk dipahami setiap guru yang akan menggunakan strategi ekspositori ini, dari beberapa guru yang mengajar di SDN Negeri Agung Kecamatan Buay Sandang Aji Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan telah ada yang menerpakan uraian tersebut namun belum sepenuhnya berjalan dengan lancar karena keterbatasan ilmu dari guru itu sendiri dan keterbatasan siswa untuk menerima pelajaran.


3. Keunggulan dan Kelemahan SE
a. Keunggulan
1) Dengan SPE guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
2) SPE dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
3) Melalui SPE selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligussiswa bisa melihat atau mengobservasi.
4) SPE bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

b. Kelemahan
1) SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2) SPE tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3) Karena SPE lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mngembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
4) Keberhasilan SPE sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.
5) Oleh karena gaya komunikasi SPE lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.


PENUTUP

A. KESIMPULAN

Aliran psikologi belajar yang sangat mempengaruhi SPE adalah aliran belajar behavioristik. Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori:
1. Strategi ekpositori dilakukan dengan cara menyampaiakan materi pelajaran secara verbal.
2. Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi.
3. Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri.

Prinsip-prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori yaitu berorientasi pada tujuan, prinsip komunikasi, prinsip kesiapan, prinsip berkelanjutan. Adapun prosedur pelaksanaan Strategi Ekspositori adalah rumuskan tujuan yang ingin dicapai, kuasai materi pelajaran dengan baik, kenali medan dan berbagai hal yang dapat mempengaruhi proses penyampaian.

Terdapat juga keunggulan dan kelemahan pada Strategi Pembelajaran Ekspositori, yaitu:
a. Keunggulan
1) Dengan SPE guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
2) SPE dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
3) Melalui SPE selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligussiswa bisa melihat atau mengobservasi.
4) SPE bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

b) Kelemahan
1) SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
2) SPE tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
3) Karena SPE lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mngembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
4) Keberhasilan SPE sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru.
5) Oleh karena gaya komunikasi SPE lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula.

B. SARAN
Dengan adanya Strategi Pembelajaran Ekspositori diharapkan guru dapat menerapkan strategi ini dengan sebaik-baiknya sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai semaksimal mungkin. Dibalik itu juga seorang guru harus menguasai/ memahami tentang konsep dan prinsip penggunaan strategi pembelajaran ekspositori itu sendiri agar penerapan dalam kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Selain itu juga seoarang guru harus memahami keunggulan dan kelemahan dari strategi pembelajaran ekspositori itu, dengan memahami maka guru dapat menerapkan dari keunggulan itu dan dapat menghindari dari kelemahan yang ada dan jika bisa dapat mencari jalan keluar agar kelemahan itu dapat teratasi.

DAFTAR PUSTAKA

Barrowrs, H. S dan Tamblyn R. M. 1980. Problem Based Learning:An Aprproach to Medical Education. New York: Springer Publishing.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nasution, S. 1989. Kurikulum dan Pengajaran. Bandung: Bina Aksara.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana, Prenada Media Group.

Sanjaya, Wina. 2005. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sukwiaty, dkk. 2006. Ekonomi. Jakarta. PT Ghalia Indonesia Printing.